Oleh : Rakhmat Giryadi
Wartawan Surabaya Post
Ponari anak usia 10 tahun duduk di bangku kelas 3 SD tiba-tiba menjadi bintang. Ia digeruduk massa. Tiga minggu ia harus melayani ribuan orang yang percaya dengan ‘kesaktiannya’. Mereka meminta usada.
Ponari si dukun tiban dari Megaluh, Jombang, pada suatu hari bisa menyembukan tetangganya yang sakit. Padahal ia tidak menyuntiknya. Ia juga tidak memberinya resep obat. Porani juga tidak memberikan keterangan Si pasien sedang sakit apa. Ponari hanya menyelupkan batu –konon turun dari langit yang dibawa oleh halilintar- di gelas berisi air. Kemudian gluk!. Satu tegukan air batu dari Ponari, konon (lagi), penyakit yang diderita tetangganya sembuh.
Kabar itu tiba-tiba menyentil bawah sadar ribuan massa dari berbagai daerah. Dalam hitungan hari, ribuan massa menyemut ke rumah Ponari yang reot. Mereka berbondong-bondong demi mendapatkan kesembuhan. Mereka datang dari berbagai kalangan. Mereka juga rela antre berjam-jam, bahkan berhari-hari hanya ingin dapat air batu dari Ponari. Tak kalah dahsyatnya mereka rela meregang nyawa demi itu.
Ini histeria massa. Mereka adalah masyarakat ‘mengambang’ yang tidak memiliki pegangan rasionalitas yang kukuh. Mengapa mereka rela datang dari jauh hanya untuk mendapat air batu dari Ponari. Sementara ada dokter yang bisa menjelaskan secara nalar medis tentang penyakit yang diderita?
Tindakan irasional memang berada diluar nalar. Orang mudah saja mengikuti arus, meski ia tidak tahu apa yang harus diperbuatnya. Inilah histeria massa. Histeria massa yang muncul selalu tak memiliki identitas. Karena itu pula histeria tersebut tidak bisa dipertanggung-jawabkan atas segala akibat dan konsekwensi yang ditimbulkannya.
Histeria menimbulkan irasionalitas pada seseorang. Orang atau segerombolan massa akan bertindak apa saja meski tindakannya itu di bawah kemampuannya. Sudah banyak contoh fenomena semacam ini. Ketika booming handphone, banyak orang ingin memilikinya. Tak peduli seberapa perlunya seseorang memiliki handphone. Bahkan, ketika ada hanphone lain yang menawarkan fitur yang lebih canggih, kehendak untuk memilikinya juga besar. Tak jarang seorang bisa memiliki lebih dari 1 hanphone.
Tak kalah menariknya, ketika booming tanaman hias beberapa waktu lalu, orang-orang ramai membeli tanaman hias dengan harga miliaran rupiah. Ketika booming ikan arwana yang konon ikan keberuntungan, orang-orang membeli arwana dengan harga selangit. Ketika booming lukisan, para juragan tembakau di Magelang, misalnya, memborong lukisan dengan harga diluar batas nalar.
Masyarakat tak bisa menjangkaunya hanya bisa bermimpi. Ketika mimpi itu ingin diwujudkan berubahlah menjadi tindakan fisik. Masyarakat atau seseorang mengalami proses perubahan dari gejala psikologis menjadi manifestasi fisiologis. Dalam hal ini Sigmund Freud meyakini gangguan histeria tak hanya disebabkan oleh kelainan organik, namun juga gangguan emosional yang dialaminya. Artinya, orang-orang yang secara kejiwaan sehat bisa saja mengalami histeris.
Histeria massa sebagai pandangan irasional atau perilaku tidak wajar yang menyebar luas pada sejumlah orang sebenarnya bukanlah sebentuk tindakan sosial tiada arti yang diarahkan kepada orang lain sebagaimana tindakan para fans artis, penyanyi, film, sinetron, dan lain sebagainya.
Namun bila dicermati histeria massa bisa menjadi sebentuk tindakan sosial bila individu yang dihisteria massa tersebut sudah diketahui ke'penyimpang'annya dalam suatu komunitas masyarakat karena kehumanistisan yang ada melihat individu tersebut yang berusaha untuk mendapatkan status yang diberikan padanya. Remaja-remaja membentuk geng. Orang-orang membentuk aliran sempalan dari agama-agama besar.
Mereka yang merasa senasib akan terjalin solidaritas. Sikap dan wujud solidaritas tersebut akan berakumulasi menjadi sebuah “semangat” namun semangat yang berkadar “massa” yang tak jelas identitasnya. Dia bisa berubah menjadi amuk yang destruktif dan menyesatkan serta akhirnya justru malah merugikan kepentingan orang lain. Demo anarkis menuntut pemekaran provinsi di Medan salah satu contohnya.
Dan hal ini sedang dialami pada Ponari. Massa yang tidak ingin pratik Ponari ditutup, memaksa dibuka. Massa tidak peduli Ponari sakit. Begitulah, histeria menimbulkan irasionalitas. Irasionalitas bisa menggiring orang betindak ‘aneh tetapi nyata.’ Dan hal itu dibawah kontrol rasionalitas. Jadi harap maklum!
Sabtu, 14 Februari 2009
ponari
Diposkan oleh
teaterapakah
di
03:04
1 komentar
Label: kolom cakcuk
Kamis, 28 Februari 2008
Cerita Indah Tentang Pohon

R. Giryadi
Maruto mencelat dari tempat tidur. Tubuhnya menggeliat-geliat, seperti bohon digasak angin. Ia mengerang-ngerang. Maruto berteriak sekuat tenaga. Tetapi teriakannya seperti disekap gelap. Maruto bertambah kalap. Burung gagak berkaok-kaok. Suara tangis menyayat-nyayat. Tembang megatruh terdengar lamat-lamat.
“Bangun, wong lanang, tidak tahu malu!” seru Murtini. Maruto tergagap dari tidurnya. Napasnya satu-satu. Wajahnya basah kuyup oleh air. Mulutnya hendak membuka. Tetapi Murtini segera menyahut.
“Apa, mimpi lagi? Pohon lagi?” kata Murtini sengak.
“Jancuk !! Kamu itu bagaimana to, wong suaminya…”
“Suami apa? Kerjaannya ngumbar mimpi. Prek…!” sahut Murtini sengit.
“Mimpi itu datang lagi. Ia menyiksaku, Mur!”
“Alah, menyiksa apa? Wong kalau tidur mesti ngorok begitu.”
Murtini tidak tahu, Maruto sebenarnya sudah berusaha melupakan mimpi yang setiap malam datang padanya. Tetapi seolah-olah mimpi itu telah menjadi bagian dari tidurnya. Sedetikpun ia tertidur, maka mimpi itu datang juga. Maruto sendiri tidak pernah mengerti sejak kapan mimpi pohon datang. Tiba-tiba mimpi itu datang begitu saja.
Tiba-tiba? Ya, tiba-tiba. Karena memang Maruto tidak pernah nggubris dengan mimpi yang datang padanya. Tetapi ketika mimpi pohon itu berulang kali datang, ia sadar akan gangguan yang tiba-tiba itu. Kalau sekarang ia banyak mengeluh, karena memang dipaksa keadaan. Mimpi itu memang benar-benar menyiksa. Bayangkan saja, sedetik ia terlelap, tiba-tiba mimpi itu datang.
“Ya, menakutkan sekali! Tapi kok aneh sekali. Masak ada pohon tumbuh dalam otak? Pohon apa itu?” kata mbah Karto Dengkek, pada suatu hari, mengomentari ceritanya Maruto.
“Pohonya tinggi dan berdaun lebat, Mbah.”
“Wo, kalau tidak pohon gayam, mahoni, trembesi, pasti beringin?”
“Saya tidak tahu, Mbah.”
“Wah, yaitu. Kamu harus tahu. Kalau tidak tahu lupakan saja,” kata Mbah Karto Dengkek.
“Jadi sampeyan juga tidak mengerti arti mimpi saya itu, Mbah?”
“Kembangnya tidur,” jawab Mbah Karto Dengkek, singkat.
Habis sudah! Orang satu-satunya yang dianggap mau menerima pengaduannya juga tidak mempercayainya. Malah menertawakan. Padahal, Maruto dulu corongnya Mbah Karto Dengkek, untuk menjadi lurah. Tetapi kini ia seakan telah melupakan jerih payah Maruto.
Tragisnya, kini mimpinya itu menjadi bahan tertawaan bagi siapa saja yang diceritai.Tetapi, tertawanya orang lain itu justru membuatnya semakin ingin tahu jawaban mimpinya yang semakin hari, semakin meneror hidupnya.
Tak seorangpun terlewatkan untuk diceritai. Saban hari ia keliling kampung menceritakan mimpinya. Pekerjaannya terbengkelai. Rumahtangganya tak terurus. Tetangganya menganggap ia tidak waras.
“Ya, biar saja. Mau ngomong apa mereka itu. Mereka toh tidak nambeli. Mereka tidak merasakan penderitaan saya. Bisanya hanya menertawakan penderitaan orang lain,” gerutu Maruto getir.
“Kalau begitu, jangan ngomel-ngomel lagi soal mimpi itu,” sergah Murtini kesal.
“Mereka keterlaluan. Apa jeleknya saya mengeluh?”
“Itu kan hanya mimpi to, Kang.”
“Tidak! Pohon itu benar-benar tumbuh dalam otakku. Dan mungkin juga dalam otakmu!” sahut Maruto.
“Kayal! Wis embuh Kang, saya tidak tahu. Pusing!”
* * *
Suatu malam, di tengah makam. Maruto duduk termenung di dekat pusara bapak dan ibunya. Ia berharap malam itu bisa bertemu dengannya. Ia ingin mengadu tentang mimpinya itu. Maruto mendekap pusara bapaknya. Tangannya memukul-mukul tanah. Tangisnya tersedu-sedu seperti ketika masih kecil. Wajahnya dibenamkan ke tanah, seperti nasibnya yang terpuruk.
Tetapi, sampai jauh malam bapaknya tak menampakan diri. Ia beralih mendekap pusara ibunya, kemudian memukul-mukulnya. Diam. Hanya suara gelepar kelelawar dan gemersik daun kamboja yang mengusik keheningan. Maruto sesengukan. Sedih.
“Siapa itu!” hardik seseorang dari kegelapan. Cahaya senter menancap di wajah Maruto. “Mau mencuri mayat, ya?” lanjut seseorang dari kegelapan.
“Ini kuburan Bapak, Ibuku.”
“Mau apa?” Maruto tidak menjawab. Ia ragu-ragu. Apakah seseorang tanpa wajah itu percaya dengan omongannya?
“Saya ingin mengadu,” kata Maruto tersendat-sendat.
“Kamu itu sudah gila, ya!” Maruto terperanjat. Makian terburuk kembali menghantam dadanya. “Orang sudah mati kok dijadikan tempat mengadu. Ayo pulang! Dasar sinting!” hardik seseorang tanpa wajah itu.
Bulan sabit, mengiris-iris hati Maruto. Kunang-kunang menghantarkannya menelusuri gelap. Burung hantu mengikuti dengan tatapan mata kosong. Maruto teringat akan petuah bapaknya, “Hidup itu seperti berjalan dalam gelap. Dan dalam gelap itu ada jalan yang terang benderang yaitu kepasrahan.” Maruto tidak mengerti apakah ia telah menemukan jalan terang itu? Yang jelas ia kini terus menyusuri jalan yang benar-benar gelap. Ia berjalan tanpa arah, seperti pikirannya yang tidak karuan jluntrungnya. Ia tidak ingin kembali kerumahnya. Ia terus mencari orang yang mau menerima pengaduannya.
***
“Hanya orang gila yang meninggalkan istrinya, berminggu-minggu tanpa pamit,” omel Murtini, suatu siang. “Terus maunya itu, apa? Apa kalau mimpinya sudah terjawab, akan berubah hidupnya. Malah tambah kere begini. Mimpi kok aneh-aneh. Setiap malam berteriak-teriak. Setiap hari yang diceritakan hanya mimpinya. Pohon keramat, minta korban, tumbuh dalam otak. Khayal! Begitu kok tidak mau dikatakan gila. To, Maruto. Hidup kok sibuk ngurusi mimpi!” keluh Murtini, sampai napasnya tersengal-sengal menahan marah.
Akhirnya Murtini diam sendiri. Percuma, toh suaminya tak mendengarnya. Tetapi nyatanya umpatan itu telah mendarah daging. Saban hari, tanpa ia sadari, ia ngomel sendiri tidak karuan di depan rumahnya. Kalau sudah begitu, tetangganya pada bergerombol, sambil berbisik-bisik, “Murtini, gila.” Dan bisikan itu menyebar bagai angin. Semua orang akhirnya tahu Murtini memang benar-benar gila.
“To, To…apa kamu sudah modar! Nyangar istri berbulan-bulan tidak pernah memberi nafkah, membiarkan aku hidup menderita begitu. Suami gila, gendheng, edan! Awas kalau ketemu, akan aku bunuh kamu.” Dengan menghunus parang Murtini meninggalkan rumahnya. Matanya nyalang, menelusuri sudut-sudut kota, mencari suaminya.
***
Di sudut lorong kota, di bawah bangunan bobrok, Maruto berjalan tertatih-tatih. Wajahnya layu, mulutnya penuh busa, badanya lungrah, tak berdaya menahan kantuk. Setiap malam Maruto mengunjungi teman-temannya di seluruh pelosok kota. Ia menceritakan semua mimpi-mimpinya. Bahkan ia juga masuk ke panti-panti werda, rumah sakit, pos ronda, discotik, rumah bordil, kos mahasiswa, kasino, rumah pelukis, penyair, semua tak ketinggalan. Ia berharap, semua akan meringankan beban penderitaannya itu. Tetapi, yang didapat, makian, dampratan, usiran, dan senyum sinis dari mereka.
“Bajingan semua manusia itu,“ keluhnya. Kemudian ia pun kembali ngomel lagi, seperti orang kesurupan.
“Kenapa lihat-lihat?” hardik Maruto, pada seorang perempuan yang memandanginya. Perempuan itu membawa parang. “Ada yang lucu, ya?” kata Maruto lagi.
“Mukamu masam seperti kentut!” seru perempuan pembawa parang itu, sambil tertawa cekikikan. Maruto, hampir meradang. Tetapi kemudian ia juga tertawa.
“Ya, ya, sekarang aku tahu jawabannya, kenapa mereka tak mau menerimaku. Ternyata mukaku kayak kentut!” kata Maruto sambil terkekeh-kekeh.
“Tetapi, kamu tahu kenapa mukaku kayak kentut?” tanya Maruto, sesaat setelah mereka berjalan menyusuri lorong-lorong kota. Tak ada jawaban. “Karena selama bertahun-tahun aku tak bisa berak dan kentut. Semua orang yang tak kentuti pada lari, karena kentutku memang mematikan,” kata Maruto sambil cengar-cengir.
“Ngomong-ngomong kenapa kamu membawa parang kemana-mana?” tanya Maruto tiba-tiba. Perempuan itu tiba-tiba berhenti. Ia bersandar ketembok yang penuh lumut. “Aku ingin membabat pohon!” jawabnya geram.
“Pohon?” tanya Maruto, seperti orang linglung. “Tetapi parangmu tak cukup tajam untuk membabatnya.”
“Pohonya, tidak terlalu besar kok. Ia kecil seperti kamu,” jawab perempuan.
“Seperti aku?”
“Ia, lelaki yang tidak bertanggung jawab!” keluh perempuan.
Mereka terus berjalan, menelusuri kota yang mendekati senja. Kota yang hiruk pikuk itu, tak mengerti keluh kesah mereka. Mereka berjalan seperti di lembah sunyi. Sunyi sekali.
“Hai, maukah kamu mendengarkan sesuatu dariku?”
“Apa itu?” tanya perempuan pembawa parang.
“Cerita indah tentang pohon. Ya, mungkin pohon yang ingin kamu tebang itu. Tapi sebenarnya bila saya mampu saya hendak menebangnya sendiri. Tetapi tak kuasa.”
“Ceritakanlah.”
Lelaki itu kemudian bercerita. Ia bercerita tentang pohon. Ceritanya panjang sekali. Walaupun aneh dan tidak bisa dinalar, perempuan pembawa parang itu mendengarkannya dengan tulus. Ia mendengarkan dengan sorot mata yang tak pernah berkedip. Maruto bercerita dengan emosi yang meluap-luap. Segala keluh kesahnya tumpah ruah. Cerita itu seperti tidak akan ada habisnya.
Maruto bercerita dari senja ke senja. Cerita itu bagaikan berbingkai-bingkai. Ini hukuman terberat yang harus diembannya. Sementara istrinya tak pernah mengerti bahwa dibalik mimpi-mimpinya itu adalah keniscayaan hidup yang terus dikuntit ketakutan-ketakutan. Sementara orang-orang yang dulu disubya-subya untuk menjadi wakilnya, kini malah menyingkangnya, bahkan terkadang juga mengancamnya. Kesetian tak berharaga sama sekali. Kerendahan hati dan ketulusan Maruto untuk menjadi simpatisan partai Beringin yang menyebabkan mbah Karto Dengkek menjadi lurah hampir seumur hidup, hanya dihargai puluhan ribu dan dua kaos atau terkadang supermi.
Sayang istrinya tak mengerti, di balik gerumbul pohon-pohon itu ada ratusan pencoleng yang siap menerkam gubuk-gubuk yang tak bernomer rumah itu. Kalau saja istrinya mau mendengar, ia tidak akan melakoni hidup pontang-panting. Namun Maruto sadar, jangankan istrinya, semua orang yang dikeluh kesahi pun tak akan percaya. Meski demikian, Maruto tetap tak ingin hidupnya terus dikuntit oleh maut.
“Kamu satu-satunya orang terakhir yang mau mendengar keluh kesahku tentang pohon-pohon bermayat yang terus meneror hidupku, “ kata lelaki itu. “Cerita itu tidak pernah bisa berakhir. Pohon itu benar-benar tumbuh dalam otakku. Tampaknya kamulah orang yang bisa mengakhirinya,” lanjut lelaki itu.
Perempuan pembawa parang hanya diam. Kesunyian menyisakan degup jantung yang semakin keras. Sementara dikejauhan terlihat kerlap-kerlip lampu lampion dari sebuah gedung negara. Perempuan itu bertanya-tanya, mengapa semua orang memasang lampu begitu terang benderang, sementara hidupnya sediri muram, bagai lampu kehabisan minyak? Perempuan itu juga bertanya-tanya, siapa lelaki di sampingnya yang telah tulus, telah menceritakan panjang lebar seluruh kemuramannya sehingga hatinya menjadi lega, berpancaran, bagai lampu-lampu neon jauh di seberang sana. Mengapa cerita itu persis dengan yang ia alami?
Perempuan itu hanya tersenyum kecut. Ia tidak menyadari telah melakukan perjalanan jauh menelusuri jalan-jalan terjal dalam hidupnya. Ia sadar cerita yang panjang itu, cerita yang menakutakan itu adalah cerita tentang hidupnya sendiri. Perempuan itu tak bisa memejamkan mata. Ia tak ingin ketakuatanya berkepanjangan. Ia ingin mengakhiri cerita itu.
“Tahukah kamu akhir dari cerita ini?” tanya Maruto seteleh keheningan memuncak di ubun-ubun.
“Menebang pohon itu,” jawab perempuan pembawa parang itu tegas.
“Tepat sekali. Kamu telah menemukan pohon yang akan kamu tebang. Lakukanlah!” Tanpa disadarinya perempuan pembawa parang itu telah menghunuskan parangnya. Ia bersiap membabat pohon dalam kepala Maruto. Desah napasnya begitu memburu. Ia melihat Maruto begitu pasrah. Ia mengacungkan parang sambil memejamkan mata. Ia teringat lelaki yang tak pernah berhenti mengeluh tentang pohon-pohon bermayat. Tetapi keputusannya harus segera mengakhiri penderitaannya. “Creeees!”
Malam gelap sekali. Dalam gelap itu terbentang jalan terang. Disana bapak dan ibu Maruto melambai-lambaikan tangannya. Maruto segera berlari dan memeluk erat orang tuanya. Sedetik kemudian, ia melihat sekelingnya gelap. Gelap sekali. Tidak ada cahaya. **
Surabaya, 2001
Diposkan oleh
teaterapakah
di
03:20
1 komentar
Label: cerpen
Jumat, 22 Februari 2008
Nyonya Gondo Mayit

Oleh : R Giryadi
Ketika dinyatakan tidak jadi mati, Nyonya Sugondo seperti manusia setengah mayat. Orang-orang kampung sering memelesetkan dengan Nyonya Gondo Mayit, artinya bau mayat. Namanya sendiri sebenarnya Satemi. Sugondo adalah nama suaminya yang telah meninggal dunia.
Setiap hari pekerjaannya hanya duduk di kursi sampai senja menjemput. Ketika langit tampak merona merah, Nyonya –dimikian ia terbiasa dipanggil dalam keluarga besar Sugondo- telah siap dengan dandanannya. Ketika Lastri pembantunya yang telah bertahun-tahun merawatnya, mengajak ke kamar, Nyonya melambaikan tangan pada senja yang meredup.
Nyonya Sugondo, atau tepatnya Nyonya Satemi Sugondo, sejak empat tahun yang lalu sebenarnya sudah mati. Ia sudah mati ketika suaminya, Sugondo, meninggal bersama selesainya karir politik yang disandangnya selama berkuasa, karena serangan bertubi-tubi dari lawan-lawannya. Nyonya Sugondo sebenarnya sudah mati, ketika jasad sang suami dikubur di pemakaman tempat kelahirannya. Sementara anak-anaknya hanya mengirim ucapan bela sungkawa, hanya lewat telepon. Kemudian dengan suara sedih, mereka menyatakan tidak bisa menghadiri pemakaman bapaknya, karena sedang ada kesibukan yang tak bisa ditinggalkan. Hanya itu.
Sejak saat itu, ketika terompah penjaga kubur berderapan, sebenarnya Nyonya Sugondo sudah benar-benar mati. Tetapi entah mengapa, Tuhan masih menginjinkannya untuk hidup, meski separuh tubuhnya sudah membusuk. Dokter yang telah merawatnya satu bulan lebih, sudah angkat tangan. Tetapi kemudian, seperti mendapat bisikan Tuhan, dokter yang berkulit putih itu, menyatakan, Nyonya sembuh dari segala penyakit yang dideritanya.
“Saya akan dibawa kemana? Saya bosan tinggal di rumah seperti kuburan ini!” seru Nyonya. Lastri tidak menjawab. Ia segera menyiapkan makanan untuk Nyonya.
“Lastri kamu tahu tidak, ini bukan rumah kita. Besok pagi-pagi antarkan aku ke Jl. Musirin! Aku tidak mau makan, kalau tidak kamu antarkan!”
“Lo, ini jalan Musirin, Nyah…!”
“Bukan begitu, lo. Jalan Musirin itu, rumahnya besar, ramai dengan anak-anak. Ini sepi begitu. Yang ada cuman setan!” sahut Nyonya.
“Setan-setan gundhul….” ledek Lastri.
“Gundhulmu atos itu. Setannya kamu itu!” Lastri berlalu sambil membawa sisa makanan, sekeranjang obat dan beberapa butir obat penenang..
Suami Nyonya empat tahun lalu meninggal dunia mendadak. Tanpa diduga ia terlibat korupsi secara ‘berjamaah’. Begitulah kata orang-orang. Konon, Sugondo tidak tahu menahu, karena dia hanya terima uang saja. Namun ternyata uang yang dikira bonus dari rekanan itu, ternyata hasil penggelapan dana pembangunan dan pajak. Sugondo tidak bisa mengelak.
Waktu itu, usai menonton Berita Malam, Sugondo tiba-tiba merasakan sakit yang teramat sangat di dada kirinya. Nyonya tidak menyadari, kalau malaikat maut sedang menjemput suaminya. Meski suaminya sekarat, Nyonya asik memindah cenel televisi. Ketika Nyonya mendapatkan acara kesukaannya, tiba-tiba suaminya mengerang kesakitan. Sepontan Nyonya berteriak memanggil Lastri.
Sugondo dilarikan ke dokter terdekat. Sayang rumah dokter itu gelap gulita. Lastri menggedor-gedor pintu, ketika napas tuanya semakin megap-megap. Sedetik atau dua detik tak ada jawaban. Namun, tiba-tiba jendela sebesar kepala terbuka. Dari dalam terlihat wajah tanpa dosa dengan rambut tak teratur. “Sudah malam, besok saja!” dokter berkacamata tebal itu menutup jendela.
Lastri pantang menyerah. Ia menggedor pintu lebih keras, dan bicara amat cepat. Dokter baru membukakan pintu ketika Sugondo terkulai tak berdaya dan hampir jatuh ke tanah. Lastri menyeretnya begitu saja. Begitu dibaringkan Nyonya berteriak histeris, karena ia tahu, suaminya telah tiada.
Dokter yang hanya memakai celana kolor itu, berusaha membuat napas buatan. Sayang tangan malaikat maut begitu terampil. Tanpa menunggu waktu karir politik Sugondo yang semakin gemilang itu berhenti seketika. Begitu juga harapan-harapan Nyonya Sugondo untuk bisa berumah seperti Nyonya Suprapto yang kini suaminya berhasil menjadi wakil bupati, terjungkal ke lubang gelap tak berdasar. Sejak saat itu Nyonya memang seperti kehilangan kendali. Hidupnya hanya tinggal menunggu mati.
“Kopi Bapakmu mana?” tanya Nyonya.
“Tidak punya kopi, Nyah.”
“Kalau habis ya beli. Masak, tidak tahu kalau kesukaan Bapak kopi?” sahut Nyonya.
“Tapi..Bap…”
“Tidak usah tapi-tapian. Pergi sana dan buatkan kopi segera. Ia nanti marah!” sergah Nyonya.
Lastri segera beranjak. Nyonya diam dengan napas tersengal-sengal. Dari mulutnya keluar kata-kata yang tak sedap didengar. Ia memang suka sekali marah. Kalau marah perangainya jelek sekali. Meski tampak lemah, kalau berteriak seperti harimau kelaparan. Ia sering marah dengan kemarahan yang meledak-ledak. Bila tak segera dituruti maka ledakan itu berubah menjadi kemarahan yang merusakan.
Sejak kelakuan berubah seperti itu, anak-anaknya tak pernah menjenguk. Tidak tahu mengapa mereka tidak mau menjenguk? Apa karena kemarahan yang membikin telinga merah? Atau kerena kesibukan? Memang sejak penyakit itu berubah menjadi kemarahan, anak-anaknya memilih merantau. Maka perempuan yang malang itu, sendirian menungu sepi.
Kalau ingin bertemu Nyonya, anak-anaknya hanya telpon. Atau kalau Nyonya kangen, mereka hanya mengirim poto-poto terbaru mereka. Meskipun mereka sering telpon, sebenarnya Nyonya tak pernah menerimanya. Lastri lebih sering menerima, dan menggantikan peran Nyonya. Dari dialah semua keadaan Nyonya disampaikan. Jarang sekali, Nyonya berbicara di telpon dengan anak-anaknya. Begitu juga ketika kiriman foto-foto lucu, cucu-cucunya mata tuanya sudah tak bisa lagi mengenali siapa yang dilihatnya, Lastrilah yang menerangkan. Bahwa ini Mas Tono yang kerja di Medan, ini Mbak Rika yang kerja di Brunei, ini Dik Dina yang kerja di Arab, dan Ini Dik Urip yang kerja di Hongkong. Semua diterangkan dengan detail.
Semua yang dilakukan anak-anaknya bagai orang mengirim bunga setaman di pekuburan. Itu dilakukan hampir setiap bulan sekali. Atau bahkan terkadang tidak sama sekali. Setelah empat tahun itu, mereka hanya lebih suka mengirim surat lewat wesel. Di dalam wesel itu terdapat kata-kata yang tak bisa dibacanya sendiri. Meski kata-kata itu jelas terucap, ‘Anak-anak dirantau sehat. Semoga ibu sehat juga.’ Kata-kata itu tak pernah lupa dan sepertinya kata-kata itulah yang pantas diucapkan bagi anak di perantauan.
Dulu anak-anak Nyonya Sugondo adalah anak-anak yang sangat patuh. Karena bapaknya sendiri adalah orang yang terhormat dilingkungannya. Di rumahnya berlaku hukum ketertiban. Semua anak-anaknya tak ada yang boleh membandel. Sebagai anak pejabat, mereka harus bisa menjadi contoh. Contoh apa saja. Nyonya memang beruntung, keempat anaknya tak ada yang membandel. Bahkan mereka juga sangat menjaga nama baik keluarga.
Tetapi bagi keluarga besar Sugondo itu belum cukup. Untuk menjadi keluarga terhormat harus cukup secara ekonomi. Maka tak ayal lagi, anak-anaknya adalah para pekerja keras yang tak pernah mengenal lelah. Sepanjang siang dan malam mereka bekerja. Setiap hari, Tono yang sekarang bekerja di Medan itu, tak pernah pulang sore. Tono yang bekerja sebagai kontraktor itu, setiap hari kerja lembur. Baru menjelang pagi dia pulang, dan ketika matahari belum separuh jalan, ia terbangun kemudian bergegas pergi.
Begitu juga Mbak Rika, setiap hari pulang usai magrib. Kalau lembur bisa jadi pulang jam sebelas malam. Tak kalah hebat lagi adiknya si Dina, dua hari sekali ia pulang. Perempuan sekretaris sebuah perusahaan besar ini memang sering keluar kota. Lebih gila lagi Urip, setiap minggu ia pulang. Pekerjaannya menuntut demikian. Hampir setiap minggu ia harus pergi ke luar pulau untuk mengantar barang-barang. Ketika mereka sukses dan telah menikah, satu persatu meninggalkan rumah yang dirasakan seperti neraka.
Bahkan setelah berpisah rumah, mereka jarang sekali berkunjung ke rumah orang tuanya. Ketika bapaknya meninggal, hanya Lastri yang berada di rumah, mengurus ini itu, bahkan sampai menyambut para pejabat yang datang berta’jiah. Sementara anak-anaknya hanya mengucapkan bela sungkawa dari balik gagang telpon, kemudian berjanji akan mengirim bantuan dana untuk selamatan sampai seribu hari.
Melihat kehidupan seperti itu, sebenarnya Nyonya pantas disebut mayat hidup. Betapa tidak, selama ini Nyonya Sugondo memang tak lebih fotokopian suaminya. Ketika suaminya disebut-sebut sebagai pejabat ini-itu, ia tak lupa disebut-sebut sebagai orang yang menyebabkan suaminya menjadi ini-itu. Ketika suaminya berpidato tak pernah lupa menyebut peran istrinya itu. Semua yang dilakukan suaminya pasti pantas dan baik untuk istrinya. Dan hukum itu seperti menemukan kebenarannya. Pernah suatu kali, suaminya tersangkut penggelapan uang negara, dengan sabar dan penuh cinta kasih, Nyonya mendorong mental suaminya, sampai ia dinyatakan tak bersalah oleh pengadilan.
Itulah peristiwa yang membuat keluarga Sugondo terguncang. Hampir semua publik tidak percaya, orang yang diyakini jujur itu melakukan kejahatan korupsi. Sementara lawan-lawan politiknya terus memojokannya, sampai ke liang lahat.
Perisitiwa itu juga menjadi titik balik karir politik Sugondo. Meski hakim memutuskan Sugondo tidak bersalah, serangan demi serangan tak pernah berhenti. Bahkan sampai dirinya meninggal dunia, khasus itu belum juga tuntas, karena putusan hakim masih perlu ditinjau kembali. Bahkan baru-baru ini, rumah Sugondo dan beberapa kekayaan yang lain ditengarai hasil kejahatan selama menjadi pejabat. Maka rumah itu, perlu disita.
“Kalau misalnya Bapak masih di rumah, pasti saya tidak kesepian seperti ini.” kata Nyonya sambil membaringkan tubuhnya pelan-pelan ke tempat tidur dekat televisi. “Besok kita pulang ya, Las? Ibu kangen betul dengan Bapakmu,” lanjutnya dengan memejamkan mata.
“Iya, Nyah,” jawab Lastri.
***
“Pos! Pos!”
“Kok tumben bukan wesel, Pak?” tanya Lastri.
“Bukan itu surat dari kantor Keadilan,” kata pegawai Pos.
“Apa isinya?”
“Baca sendiri.” Kemudian pegawai Pos yang setiap kali mengantar wesel itu berlalu.
Lastri hendak membacanya, tetapi Nyonya keburu memanggilnya.
“Itu pasti wesel dari anaku?”
Lastri tak bisa menjawab. Ia membuka surat dari kantor Keadilan.
“Apa isinya? Pasti mereka kirim uang banyak. Kalau kirim uang kita bikin nyusul Bapak saja, Las,” kata Nyonya.
Lastri tidak memperhatikan kata-kata Nyonya. Ia mengeja, bunyi surat itu.
“Cepat Lastri katakan apa kata mereka? Berapa yang dikirimkan. Saya sudah kangen betul dengan, Bapak,” kata Nyonya lagi. Lastri tidak mengatakan apa-apa. Ia menyerahkan surat itu kepada Nyonyanya.
“Disita?” kata Nyonya yang kemudian jatuh tersungkur tak sadarkan diri. Lastri berteriak histeris. Kali ini mengundang para tetangga berbondong-bondong datang. Nyonya benar-benar menyusul suaminya. Orang-orang mengantarkannya ke pekuburan dengan gremeng-gremeng, bukan doa, tetapi suara-suara sumbang. “Ia mati karena banyak makan uang rakyat dari suaminya!”
Besoknya, pegawai Pos datang lagi. Kali ini ia tidak berteriak. Ia hanya meletakan ucapan bela sungkawa dari anak Nyonya Sugondo yang dikirim dari seberang. Ia menyandarkan karangan bunga kecil dekat pengumuman yang dipasang oleh petugas kantor Keadilan : ‘Rumah ini disita negara.’
Surabaya, 2006
Diposkan oleh
teaterapakah
di
07:15
0
komentar
Label: cerpen
Sebuah Makam Untukku

Oleh : R Giryadi
Ketika menjejakkan kaki di jalan beraspal ini, aku membayangkan ibu yang wajahnya mulai dirambati garis-garis ketuaan yang tegas. Seorang ibu yang barangkali hanya duduk termenung sambil menunggu waktu pagi berubah malam. Seorang ibu yang kesepian. Seorang ibu yang tidak tahu dimana alamat anaknya yang puluhan tahun lalu pergi kemudian tak segera kembali.
Apakah setelah sepuluh tahun yang lalu, ibu akan berpikir lain? Apakah ia masih mengenaliku sebagai anaknya? Apakah di rumah –warisan kakek- sudah berganti gambar bapak pembangunannya? Masihkah disana tergantung gambar butir-butir P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) ? Atau masihkah ia menyimpan alat simulasi P4 yang harus dimainkan oleh warga untuk bisa menghapal butir-butirnya?
Ah, wajah ibu begitu asing untuk aku jejaki kembali, setelah sekian tahun, aku lupakan, dia sebagai wanita yang pernah menyuruhku, memilih tanda gambar Partai Beringin. Hanya gambaran wajahnya dilangit-langit kosong. Bahkan, untuk merunut lagi kenangan-kenangan itu bagai membongkahi batu jalan yang tertancap dalam aspal yang pekat.
Aku hanya terngiang-ngiang suara ibu di speaker yang dipasang di atap dokar Pak De sewaktu kampanye dulu, atau sewaktu ibu berkeliling kampung mengabarkan kepada semua ibu-ibu untuk mau ber-KB (Keluarga Berencana).
Aku merasakan hawa begitu kering, sekering hatiku untuk berani menghadap ibu. Anak-anak yang lewat juga berwajah kering, seakan tak ada yang mengenaliku. Aku tidak tahu, mengapa wajah mereka seperti mayat yang ratusan tahun dimumi?
Mengapa suasana begitu kering, tak berdaya, dan seperti tidak mempunyai daya hidup? Kantor kelurahan persis seperti kuburan, gersang dan tandus. Di sana-sini temboknya bongkah, dimakan lumut. Kayu penyangga genting banyak yang rompal, digerogoti rayap.
Inikah wajah desa yang di pintu masuk desa didirikan monumen peringatan, Desa Pancasila? Monumen yang bercokol di depan gedung sekolahan itu, kelihatan seperti sebuah menhir, yang tinggal menunggu kerobohannya.
Sesampai di tugu perbatasan, aku seperti melihat garis titik nadir peradapan. Aku benar-benar menyaksikan desa yang bergeming dari masa lalunya. Kalaupun ada perubahan, hanya gambaran yang mengesankan suatu yang telah menjadi purba dan sebentar lagi punah.
Puluhan tahun yang lalu, kampung ini marak dengan berbagai atribut kemanangan. Rumah-rumah penduduk, distempel dengan tanda –mau tidak mau- gambar Partai Beringin. Bahkan semua cat rumah dan pagar diseragamkan. Ibu, bapak, dan perangakat pemerintah, begitu membabi buta, menikmati kemenangan demi kemenangan.
Ketika aku melangkah beberapa meter dari tugu perbatasan, sorot mata para tetangga tajam memandangku. Mereka seperti menyaksikan makluk asing yang tiba-tiba menjamah desanya. Semestinya mereka tahu, bahwa pemuda yang sekarang berjalan dengan menyangklong rangsel gunung, kaca mata hitam, sirip hiu di ikat pinggang, sepatu lars, dan air mineral yang diselipkan di saku samping celana, adalah pemuda putera keluarga Suganda Marta Prawira, mantan jurkam Partai Beringin yang mereka cintai.
Tampaknya sorot mereka tak begitu mengenaliku. Mereka seperti melihat anjing dari pada manusia yang bertitel sarjana.
“Mari, Pak, Bu, Dik,” sapaku pada orang-orang untuk mencairkan suasana. Seperti dugaanku, mereka tak menyahut sapaanku. Bahkan, mereka segera berlalu tanpa menghiraukan kedatangannku.
Akhirnya di depan tugu yang hampir ambruk karena batu batanya sudah tampak tua, aku berdiri melihat pemandangan yang cukup aneh. Sebuah rumah yang tertutup rapat, seperti tidak ada kehidupan. Bau lumut kering begitu menyengat. Ilalang tumbuh lebat. Rumah dengan cat kuning yang telah kusam itu, seperti kamar mayat rumah sakit yang tak terawat. Atau seperti situs candi yang hanya tinggal menunggu ambruk dimakan gulma. Aku berjalan menembus kegelapan hatiku. Apakah ibu masih mengenaliku?
“Cari siapa?!” tanya seorang perempuan yang berjalan membungkuk karena beban kayu dipunggungnya. Tidak salah lagi perempuan tua itu ibuku.
“Aku Teja, Bu,” kataku tergopoh-gopoh. Perempuan tua yang aku anggap ibu itu, memandangku dengan tanda tanya di keningnya.
“Teja?” Perempuan tua itu, meletakan kayu bakarnya. Dahinya berkerut-kerut memeras ingatan. Sampai beberapa kedipan mata, ia bicara. “E…, saya pernah dengar. Te…ja..? Kalau Teja anaku telah mati,” lanjutnya dengan mata yang tiba-tiba berubah sendu. Ia menatap tanah dan kakinya yang kering.
“Sudah mati? Ini aku Teja Murti, putra pak Suganda Marta Prawira dan Ibu Sugiarti,” kataku memberi penjelasan. Perempuan yang aku kira ibuku itu perlahan-lahan mengangkat mukanya yang dibasahi air mata.
“Beberapa tahun yang lalu ia hilang. Dan orang-orang telah membuatkannya makam di samping leluhurnya,” kata perempuan tua itu, sembari mengangkat kembali kayu bakar dari patahan ranting-ranting kering.
“Mereka salah, Bu. Ini aku benar-benar Teja. Aku masih segar bugar. Belum mati!” Namun perempuan tua itu tak memperdulikanku. Aku mengikuti langkah gontai perempuan tua yang keberatan memanggul kayu bakar. Inikah si Pahlawan yang telah banyak menyumbangkan kehidupannya pada partai yang dicintainya, melebihi mencintai anak dan keluarganya?
“Ibu harus percaya, bahwa saya Teja yang lahir dari rahim ibu,” kataku lagi ketika sesampai di dekat kandang ayam yang hampir roboh.
“Nak, kepada siapa saya harus percaya. Pada ratusan orang yang telah memberikan ucapan duka cita, atau pada rengekan seorang anak muda. Ia telah mati. Ia telah mati menguburkan cita-cita kami!” serunya kemudian, dengan suara ketuaannya yang gemetar.
Aku benar-benar tengah menjejaki tanah asing, tanah yang telah menanam orokku. Di kuburan para leluhurku memang telah tertanam nisan, bertuliskan :
Teja Murti
Lahir : 22 Desember 1969
Wafat : - 1998
Siapa dia? Kuburan siapa dia? Teja Murti yang mana? Beribu pertanyaan menjejali otakku. Dari Pak RT sampai Pak Lurah pun membenarkan, bahwa itu kuburan Teja Murti, putra almarhum, pak Suganda.
“Anak ini siapa? Didata penduduk kami, nama Teja Murti telah dinyatakan meninggal dunia,” kata Pak Lurah seperti menohok jantungku.
“Tapi saya ini benar-benar Teja, yang puluhan tahun lalu kuliah ke Jakarta,” kataku menyela.
“La, itu makam siapa?” tanya Pak RT yang ikut pertemuan itu.
“Saya tidak tahu?” jawabku singkat. Tiba-tiba Pak RT berbisik pada Pak Lurah. Setelah Pak Lurah berdehem, dua orang Hansip tiba-tiba menggelandangku keluar.
“Kalau bukan penduduk sini jangan mengaku-ngaku, ya! Bikin onar saja!” bentak Hansip seraya mendorongku keluar dari pekarangan kantor desa yang persis seperti kuburan.
Kepada ibuku, akhirnya aku harus merengek-rengek, agar diakui sebagai anaknya. Namun ibu bergeming dari pendirianya. Mengapa ia menjadi bisu? Padahal, puluhan tahun yang lalu, beribu-ribu kata membuncah dari mulutnya yang kini kelihatan keriput dan bergetar. Mengapa sorot ibu begitu benci padaku? Mengapa ia rela menancapkan nisan di makam leluhur untukku?
“Ibu, apa yang terjadi?”
“Jangan panggil aku Ibu. Kamu bukan anakku!”
“Aku Teja, anakmu, Bu…”
“Kalau anakku kenapa tega kau lakukan ini semua?”
“Saya telah melakukan apa?”
Ibu tak menjawab. Sedetik matanya menerawang. Tiba-tiba tubuhnya bergetaran dan raut wajahnya memancarkan ketakutan.
“Sebaiknya kau pergi. Jangan menambah penderitaanku!”
Di halaman rumah, orang-orang berkelebat. Aku melihat mereka menghunus senjata. Ia memandang rumah reot ini bagai memandang bangkai anjing yang najis. Siapa mereka? Mengapa mereka mengepung rumah ibu. Aku beranikan diri keluar, melihat orang-orang dengan mata kebencian yang menusuk hati.
“Hai, pahlawan! Ada baiknya kau pergi dari kampung ini. Tidak baik terlalu berlama-lama!” seru salah seorang berpakaian doreng-doreng.
Aku menoleh pada ibu. Tetapi tak mendapat jawaban. Ia menunduk. Rambutnya menutupi seluruh wajahnya yang kelu. Apakah ini pertanda ibu tidak menerimaku lagi sebagai anaknya?
Dengan berat hati, aku mengangkat rangsel yang lusuh. Dadaku berdegup ketika melintas di depan orang-orang yang dulu aku kenal sebagai simpatisan Partai Beringin dan sangat loyal pada bapak. Aku tidak mengerti mengapa ia sekarang berubah seperti harimau? Dari bisik-bisik mereka, aku mengerti bahwa kerusakan desa ini akibat dari gugurnya masa kejayaan Partai Beringin.
Memang desaku dulu sangat fanatik dengan Partai Beringin. Aku masih ingat, betapa orang yang ketahuan memilih partai lain, mereka akan diasingkan. Orang-orang pun takut berdekatan dengan orang yang memilih partai lain, karena takut dicap PKI (Partai Komunis Indonesia). Saya tahu semua itu karena hasil kerja keras bapak dan ibu yang saban hari tak henti-hentinya ngoroki telinga penduduk yang sebagaian besar tak pernah makan sekolahan dan buta politik. Karena itulah tak heran bila mereka pada akhirnya mencintai partainya itu dengan membabi buta.
“Teja!” tiba-tiba sebuah suara menyapaku dari belakang.
“Urip?” sapaku setengah bertanya-tanya.
“Ya. Wih…ternyata kamu masih hidup?” sahut Urip.
“Ada apa memang?” tanyaku heran.
“Sssst…ayo ke rumahku.” Urip menyeretku seakan sedang mengungsikanku dari kecamuk perang dasyat.
“Memang, setelah gegeran di Jakarta berlalu, di kampung ini terjadi perubahan sangat drastis. Kalau kamu melihat tidak ada perubahan sama sekali, karena desa kita ini masih fanatik dengan partainya yang dulu-dulu. Saya tidak tahu, bagaimana ini bisa terjadi, tiba-tiba desas-desus tersiar, semua ini karena ulahmu dan teman-temanmu di Jakarta itu. Bahkan sangking jengkelnya, kamu dikabarkan mati. Entah dari mana kabar itu, ibumu pun percaya, kalau kamu juga mati di tengah ontran-ontran di Jakarta itu. Mendengar berita itu, bapakmu mendadak sakit. Tak lama kemudian ia meninggal dunia. Sedihnya orang-orang yang dulu setia padanya tak ada yang mau melawat,” kata Urip setengah berbisik, ketika kami sampai di rumahnya.
“Saya tidak tahu, mengapa orang-orang sangat benci dengan keluargamu?” lanjut Urip.
Aku melenguh, melepas napas panjang-panjang. Dari luar, aku mendengar suara derap orang berlarian. Ketika aku intip dari lubang kunci pintu, aku melihat bayangan orang berkelebatan membawa pentungan. Urip berlari kebelakang. Tiba-tiba pintu depan didobrak dengan paksa. Seditik saja, orang-orang meringsek ke dalam dan memukuliku habis-habisan.
“Uuurrrrriiiiipppp…toloooonnggg!” seruku di tengah suara caci maki orang yang dengan membabi buta menggebugkiku bagai anjing.
“Dasar pengecut! Penipu! Bisanya hanya obral janji. Matilah kamu! Matilah pahlawan gadungan!” seru orang-orang membabi buta. Disaat seperti itu aku melihat Urip tersenyum sinis. Sorot matanya memendam kebencian.
“Kau tahu, akibat ulahmu aku gagal jadi lurah!” seru Urip seraya mengayunkan pentungannya ke wajahku. Saat itulah aku ingat, Urip adalah salah satu pemuda yang dicap PKI oleh bapak, karena ketahuan memilih Partai Banteng.
“Matilah kau PKI!” seru Urip dan membuat seluruh pandanganku gelap gulita.
Surabaya, 2006
Diposkan oleh
teaterapakah
di
06:59
0
komentar
Label: cerpen
Polemik Sastra 'Kelamin'
Sastra : Kembalikan Pada Pembaca
Oleh : R Giryadi
Polemik sastra akhir-akhir ini atara dedengkot sastrawan kita di koran ini sesungguhnya tidak membicarakan sastra itu sendiri. Pembicaraan lebih menelusup pada ruang pribadi dan tak menghiraukan ruang pembaca yang sebenarnya disanalah sastra hidup dan mati.
Perdebatan semakin tidak seru karena yang banyak berbicara adalah para praktisi sastra yang tentu membawa konsekwensi apa yang dinamakan politik sastra atau bahkan ideologi sastra. Dan karena itu sesungguhnya polemik itu tidak bersinggungan dengan pembaca dan bahkan cenderung berbicara di dalam ruang masing-masing atau cenderung bermonolog tanpan menimbulkan efek apapun pada (esensi) sastra yang sedang diperbincangkan.
Kekisruhan ini sebenarnya buah dari tidak adanya kritik sastra di tengah laju ‘produksi’ sastra yang melimpah akhir-akhir ini. Kritik yang ada, hadir dari praktisi sastra. Para praktisi sastra ini tentu akan menyampaikan kritik sastra seiring dengan idealisasi sastra yang sedang digelutinya. Selain Hudan Hidayat dan Taufik Ismail yang sedang berpolemik, sastrawan lain seperti Seno Gumira Adji Darma, Agus Noor, Gus Tf Sakai, Taufik Ikram Jamil, Budi Darma ketika menyampaikan kritik akan membawa idealisasi kritik sendiri-sendiri. Disinilah menyebabkan sasta menjadi elit karena tidak berada di ruang yang boleh dimaknai oleh siapa saja. Mereka membicarakan sastra sendiri untuk diri sendiri.
Karena itu, ruang sastra di koran-koran minggu sebenarnya tetaplah berada dalam posisi menaragading. Ia tidak berada dalam satu wilayah yang mudah dibaca oleh siapa saja. Sastra –oleh sebagian pembaca koran- masih dianggap sesuatu yang amat serius di samping berita-berita politik, ekonomi, kriminal, gosip, iklan baris, advetorial, lowongan kerja, dan lain sebagainya (Seno Gimira Adjidarma, 1995).
Kita harus akui bahwa masyarakat kita adalah masyarakat bukan pembaca. Kalaupun membaca mereka adalah bukan pembaca yang aktif. Mereka lebih cenderung memilih membaca untuk mengisi waktu senggang. Sastra dibaca nomer kesekian setelah beberapa materi berita yang disajikan oleh media massa.
Ini kita berbicara sastra yang terbit di media massa. Belum lagi sastra yang terbit dalam bentuk buku. Kita bisa melihat buku sastra, novel, antologi puisi, antologi cerpen, atau buku-buku sastra yang lain banyak terpampang di rak-rak toko buku, tanpa banyak disentuh oleh pengunjung. Mereka lebih banyak bergerombol di rak-rak buku yang menyajikan gaya hidup, panduan hidup, komik, tabloid, dan lain-lain. Buku sastra? Ntar dulu!
Namun sekali lagi, kalaupun mereka sempat mengambil buku sastra, tentu mereka akan lebih mendahulukan mengambil buku-buku karangan penulis luar, atau sastra sastra populer dari pada mengambil buku karangan Nukila Amal, Ayu Utami, Fira Basuki, Dewi Lestari yang melihat covernya saja, dahi mengkerut (dalam hal ini saya tidak mengatakan karya mereka jelek).
Polemik kali ini harus didudukan pada persoalan sastra itu sendiri. Ketika kita membaca karya-karya Jenar Maesa Ayu, Nukila Amal, Ayu Utami, atau yang lainnya tentu akan berbeda ketika kita membaca karya-karya Ratna Indraswari Ibrahim, NH. Dhini, Laela S Chudori, Oka Rusmini dan penulis perempuan lainnya. Bagi pembaca aktif tentu akan mampu membedakan –mengapresiasi- karya penulis terkemuka ini, mana tulisan yang mencerahkan dan mana sastra yang `menyesatkan.`
Bagi pembaca pasif mereka tentu hanya akan memilih sastra mana yang bisa memberikan sensasi dan hiburan belaka. Mereka tidak memperdulikan politik sastra yang sedang didesakan oleh penulis. Mereka tidak secara aktif `mengapresiasi` sastra yang sedang dibacanya.
Polemik sastra antara Taufik Ismail, Hudan Hidayat dan kemudian diamini oleh dua penanggap lainya, M. Faizi (Jawa Pos, 8 Juli 2007) dan Mariana Amiruddin (Jawa Pos, 15 Juli 2007), telah meninggalkan ruang apresiasi yang lain. Bahkan mereka cenderung menutup apresiasi itu sendiri. Lebih ironis lagi, mereka saling menyerang pribadi tanpa menyajikan fakta dan data (social) yang konstruktif (komparatif).
Inikah ironi sastra? Sastra masih dimaknai secara tunggal oleh praktisi sastra itu sendiri. Kehadiran pikiran pembaca seperti dinisbikan. Mereka lebih memintingkan posisi politik sastra daripada makna sastra itu sendiri. Saya menilai, polemik ini lebih dikarenakan perpanjagan dari `persetruan` –meski tidak artikulatif- antara geng Utan Kayu dan Horison. Dan tentunya sebenarnya yang mereka perdebatkan adalah politik sastra itu dan dalam hal ini adalah ‘kekuasaan’ yang diakui atau tidak terjadi dalam medan sastra kita akhir-akhir ini.
Karena itu lebih arif, berdebatan ini harus dikembalikan pada pembacanya. Sebagaimana diungkapkan Maman S Mahayana (2005), pembaca itu kejam. Ia bisa menghakimi sastra dengan caranya sendiri. Ia bisa saja menempatkan sastra pada nomer kesekian dengan urusan yang lainnya. Bahkan pembaca bisa saja meniadakan sastra itu sendiri kalau tidak berguna bagi kehidupannya.
Dari sini akhirnya kita tahu sastra yang hebat adalah sastra yang mampu hidup di tengah masyarakat pembacanya. Sastra yang hidup di tengah pembacanya adalah sastra yang mencerahkan, sastra yang tidak hanya menghadirkan sensasi tema, teknis penulisan, apalagi sastra yang hanya menampilkan kepopuleran penulisnya.
Sastra cabul, sastra wangi, sastra lendir, sastra religius, sastra absurd, sastra surrealis, sastra realis, sastra klasik, sastra populer akan tidak ada gunanya ketika masyarakat tidak membacanya. Mereka akan hidup ketika pembaca menghidupkan dengan menjadikan sastra sebagai bagian dari cara mereka hidup.
Apakah sastra yang diperdebatkan berposisi demikian? Kalau tidak, apalah gunaya kita saling tuding. Kembalikan saja sastra pada pembaca. Begitu saja kok repot! **
Diposkan oleh
teaterapakah
di
06:52
0
komentar
Label: esai sastra
Selasa, 12 Februari 2008
Sebuah Pertanyaan

Oleh : Rakhmat Giryadi
Hidup di gang sempit, para tetangga seperti punya alat perekam yang canggih. Kupingnya seperti alat pendeteksi, matanya seperti hidencamera, yang setiap gerak gerik kita, semua terekam. Dan otak mereka seperti hardisc yang mampu menyimpan miliaran data. Sekali tekan tombol : mulut mengoperasikan data itu menjadi gosip yang berkepanjangan.
Hidup di gang sempit memang tidak ada rahasia. Kita seperti hidup di ruang kaca. Semua polah tingkah kita akan segera bisa diketahui dari gang satu ke gang lain, kemudian merebak bagai gelombang radio yang dalam sepersekian detik, kabar itu bisa diterima ke pendengar terjauh sekalipun.
Hidup di gang sempit, semua orang boleh mengetahui apa yang kami miliki dan tidak kami miliki. Hidup di gang sempit, ruang hidup kita memang benar-benar sempit. Mata, telinga, dan otak tetangga ada disisi kita, menempel di dinding, seperti lumut yang menggerogoti tembok.
Dan kali ini lumut itu menggerogoti tembok kami.
Sore yang sumpek dan gerah, seperti biasa Sukir mulai belajar membaca. Ia selalu belajar membaca dengan suara lantang. Ia tidak bisa membaca dalam hati. Apalagi ia masih belajar mengeja. Suaranya hampir mengalahkan tarqim dari musala kampung. Otot-otot lehernya terasa mencuat. Ludahnya muncrat. Lidahnya sekali-kali mengelap ludahnya yang ndlewer di ujung bibirnya, persis seperti ular Cak Nurdin tukang sulap keliling itu.
Kami menyambut gembira. Tetapi, tidak bagi tetangga kami.
“Apa yang kamu baca, sudah saya baca sejak kecil. Dilarang membaca keras-keras!” seru Bejan dengan wajah tersungut-sungut.
“Tidak tahu surub, ta? Dilarang membaca keras-keras!,” teriak Karno yang baru pulang dari nyopet di terminal Joyoboyo, sok alim.
“Nggak punya telinga, ya. Ini kan magrib! Dilarang teriak-teriak,” himbau Kaji Dofir, yang gelar Kaji atau Haji di depan namanya itu sebenarnya hanya gelar-gelaran. Dia dipanggil Kaji Dofir karena dia sangat rajin salat magrib di musala. Para tetangga yang mulutnya panjang memperoloknya dengan sebutan Kaji. Gelar itu tersemat begitu saja.
Mendapat teguran dari tetanga sebelah, Sukir tak pernah menghiraukan. Ia malah membaca dengan sangat lantang. Lantang sekali! Sampai saya dan istri harus menegurnya. Tetapi dasar anak kecil yang sedang senang-senangnya belajar, semua dianggap angin lalu.
“Kalau baca yang lirih. Nggak tahu ada tetangga sakit!” hardik Cak Dahlan yang meski lambungnya rusak, masih saja mulutnya menyemburkan bau alkohol.
Larangan tetangga tak menyurutkan Sukir untuk terus membuka bukunya, halaman demi halaman. Halaman demi halaman seperti misteri yang harus ia pecahkan dengan rasa kegembiraan. Setiap kata ia eja dengan lantang. Tentu itu bukan kemauan Sukir. Tetapi begitulah guru Sukir mengajarinya. Atau mungkin juga bukulah yang mengharuskan Sukir membaca dengan tegas dan lantang.
Menurut saya memang wajar. Tetapi menurut tetangga kami tidak.
Apakah Sukir mengalah? Tidak! Ia tetap saja belajar mengeja dengan suara lantang. Bahkan kali ini cukup lantang, seperti teriakan seorang telah menemukan jalan baru ketika terjebak di jalan buntu. Namun, kerasnya sikap Sukir disambut sikap keras para tetangga.
Pak RT berkunjung ke rumah. Ia mewakili warga yang protes. Dengan nada ditegas-tegaskan ia menghimbau kami agar bisa membimbing anak berlaku sopan dalam bertetangga. Bahkan ia membawa plakat bertuliskan : ‘Dilarang Berisik!’ Plakat itu ia pasang di gerbang RT. Saya dan istriku bisa mengerti saran Pak RT. Tetapi apakah Sukir bisa mengerti?
Besoknya Sukir masih berprilaku sama. Bahkan kali ini ia membaca dengan irama cepat dan lantang. Bahkan, sekarang ia tidak hanya membaca buku pelajarannya. Setiap ada tulisan, ia eja. Tulisan di tembok, di koran, di kalender, di kardus-kardus bekas, di kaleng-kaleng bekas, di spanduk-spanduk, di iklan-iklan tempel, di baliho, di poster, di majalah, semua ia baca. Ia seperti sedang membuka rahasia kehidupan yang hari demi hari ia lalui. Tak lupa ia membacanya dengan cepat dan lantang.
Bahkan kini, tidak hanya sekedar membaca, tetapi diikuti dengan pertanyaan tentang arti kata yang diejanya. “Fuk y-o-u itu apa?,” tanya Sukir pada Giono yang kaosnya bertuliskan : Fuck You dan gambar jari tengah menelunjuk ke atas.
Giono yang preman lulusan SD itu malah menunjukan jemari tengahnya tepat di hidung Sukir. Sukir membalas dengan gaya yang sama. “Fak yu, men!”
Sukir dijitak. Sukir menangis.
Hampir semua tetangga mendapat jatah pertanyaan dari Sukir. Pertanyaannya itu tidak hanya menyibukan kami, tetapi juga guru, teman-temannya di sekolah, orang di jalanan, dan tentunya orang sekampung. Ada saja yang dieja dan ditanyakan. Tulisan-tulisan yang bertebaran di jalan, di tembok, di pagar seng, di tiang listrik, di mobil, di becak, di truk, di angkot, semua diejanya. Tetapi yang tidak bisa kami pahami adalah pertanyaannya itu.
Kali ini tidak Pak RT yang berkunjung ke rumah, tetapi juga Pak RW dan dua Hansip. Memang kedatangan Pak RW tidak membentak-bentak. Dengan didatangi pejabat kampung, tentu itu suatu sasmita bagi orang kecil seperti kami.
“Saya tidak melarang anakmu belajar membaca. Tetapi dilarang banyak tanya!” kata Pak RW.
Kami harus mengerti. Tetapi apakah Sukir bisa mengerti?
Suatu hari ia menangis sesenggukan. Gara-garanya ia dipukul Cak Bendol. Kata Sukir, ia hanya tanya pada Cak Bendol yang sedang cangkruk di becak, arti kata cabul. Besokan juga terjadi hal yang sama. Katanya ia baru saja dicubit Ning Maryati hanya gara-gara ia tanya arti kata lonthe. Ning Maryati yang mantan pelacur itu tentu naik pitam.
Kebiasakan ‘buruk’ Sukir, membuat Pak RT dan Pak RW bertindak tegas. Mereka menghimbau agar kami pindah rumah. Karena perbuatan Sukir sudah memusingkan orang sekampung. Dengan nada dihaluskan, beliau menghimbau kami agar anaknya diajari sopan santun. Hidup di kampung harus tau tepa selira. Memahami hak-hak tetangga. Dan yang lebih penting adalah tidak mengganggu tetangga.
Istri saya sempat protes. Tetapi apalah artinya protes bagi suara kecil yang terselip di gang sempit seperti itu?
“Sssst! Sabar, sabar!” kataku menenangkan.
“Sabar, sabar. Sampeyan itu wong lanang kok tidak bisa bela keluarga. Ini hak kita, Cak. Hak anak kita!”
***
Sepulang sekolah, Sukir nangis lagi. Katanya ia baru dipukul Cak Dul. Masalahnya sepele. Ia tanya arti kata : ‘Narapidana.’ Karena jengkel, Cak Dul memukul kepala Sukir. Saya cari Cak Dul di pangkalan becak, dekat gedong ludruk Irama Budaya, milik Cak Zakia.
“Kenapa kamu Drat. Cari saya ta?. Kamu tidak terima anakmu saya pukul?. Mau apa?!,” sergah Cak Dul jumawa.
Saya sedikit grogi. Demi anak, saya beranikan diri melawannya, meski Cak Dul yang gemar lagunya Roma Irama ini pernah dipenjara, karena membunuh teman becakannya yang ngencani istrinya.
“Kalau anak kamu sendiri saya pukul, bagaimana?”
“Tak bunuh orangnya!” potong Cak Dul.
Saya semakin terpojok. Apakah saya juga akan membunuhnya? Orang-orang sudah mulai menjauh. Sayapun keder. Karena Cak Dul mulai turun dari becaknya. Tangannya mencengkeram leher saya. Matanya melotot tajam. Mulutnya menyemburkan bau minuman keras.
“Kamu mau membunuh saya?” tantangnya.
Kali ini saya beranikan diri, mendorong tubuhnya keras sekali sampai terjengkang ke becak. Cak Dul hendak beranjak dengan wajah memerah. Tetapi satu tendangan, membuatnya terjungkal lagi. Kali ini Cak Bokir, Kolik, Gimo, Rodli, Sariban, mengerubut Cak Dul yang naik pitam sembari mengerang-ngerang. Sementara saya diseret Cak Ripin pergi menjauh.
Malam harinya, Pak RW datang lagi. Kali ini ia bicara agak keras. Bahkan berbau ancaman. Paling tidak itulah yang saya rasakan.
“Demi ketenangan, ada baiknya sampeyan merubah sikap. Kalau tidak kita sebagai aparat desa, tidak bisa berbuat apa-apa kalau rakyat bertindak sendiri-sendiri….,” kata Pak RT, kemudian menyudahi kunjungannya itu dengan kalimat singkat tetapi penuh harapan sekaligus ancaman : “Camkan itu!”
Untuk melawan tentu kami tidak punya modal. Sederhananya, terpaksa kami memaksa Sukir untuk belajar membaca dalam hati.
“Tidak perlu bersuara. Cukup dibatin saja. Dan yang penting jangan banyak tanya,” sergahku. Bahkan kali ini dengan menjewer telinganya.
***
Sejak anak saya tidak membaca dengan keras, rumah terasa sepi. Bahkan kampung juga terasa sepi. Setiap usai magrib, tak ada suara, selain suara ketokan penjual bakso. Klakson penjual roti. Atau teriakan penjual sate ayam. Teriakan anak-anak kecil yang main petak umpet.
Buku-buku sukir tertata rapi di meja kecil. Ia enggan menyentuhnya, apalagi membukanya. Ia lebih memilih bermain dengan mainan apa adanya. Terkadang ia bermalas-malas di tempat tidur, sambil nonton TV. Sepulang sekolah ia juga tak menyentuh buku. Ia memilih nonton TV.
Yang merisaukan, Sukir menjadi enggan sekolah. Bahkan kali ini ia sama sekali tidak mau masuk sekolah. Terpaksa Sukir saya pindahkan sekolah di desa orang tua saya. Namun tiga bulan kemudian, orang tua saya memulangkan Sukir.
“Anakmu tak kembalikan, di sana merepotkan sekali,” kata Bapak yang dibenarkan Ibu.
Begitu juga mertua saya, mereka memulangkan Sukir dengan alasan sama.
Sukir kembali kepangkuan kami. Ia tetap tidak mau sekolah.
“Kalau Sukir tidak mau sekolah, nanti kan tidak bisa membaca?” kata saya suatu hari. “Kalau sukir mau sekolah nanti dibelikan bapak buku baru,” rayu saya.
Sukir bergeming. Kami tidak memaksakan diri, meski kami was-was dengan masa depannya.
Pada tahun ajaran baru, kami mengajak Sukir pergi sekolah. Untung sekali ia mau kembali ke sekolah. Hati kami lega. Tetapi suatu siang Sukir pulang sekolah dengan berurai air mata.
Saya tidak berani bertanya. Saya melihat ada rasa kecewa yang dalam dari sorot matanya. Sukir saya biarkan menangis. Begitu juga istriku, ia tetap sibuk menata barang-barang bekas.
Pada malam harinya, saya baru berani mendekati Sukir yang tampak sudah melupakan kejadian tadi siang. Dengan sedikit bercanda saya beranikan diri bertanya pada Sukir.
“Kenapa kamu tadi siang menangis?”
“Habis, Bu Guru tanya terus pada Sukir. Sukir kesal. Sukir bilang ‘dilarang bertanya!’ Eh, Sukir dipukul pakai penggaris,” cerita Sukir.
“Terus?”
“Dilarang bertanya terus!” sergahnya. Kali ini ini dengan nada lepas dan tanpa beban.
Kami melongo. Hidup di gang sempit memang tidak ada kata tanya.
Surabaya, Desember 2007
Diposkan oleh
teaterapakah
di
06:46
0
komentar
Label: cerpen
Kamis, 31 Januari 2008
Kerudung Hitam Sanikem

Oleh : Rakhmat Giryadi
Adzan Dhuhur terdengar sayup-sayup. Dokar yang ditumpangi Sanikem, tergoncang-goncang, karena jalan aspal yang bergelombang dan penuh lubang, persis seperti hidupnya yang penuh jebakan.
“Beginilah Neng kalau jalan dikorupsi itu,” kata kusir dokar.
Sanikem, hanya tersungging sedikit. Lesung pipinya tertutup kerudung hitam yang dikenakannya. Matanya melihat-lihat sekitar. Pikiranya juga masih mereka-reka, apakah orang tuanya masih ada atau tidak?
Kini Sanikem sudah berubah. Ia tidak sehitam dulu. Kini kulitnya sudah kuning langsat. Badanya terawat, dan kelihatan seperti Mulan Jamaela. Wajahnya polesan metropolitan. Rambutnya bergaya Krisdayanti. Tidak salah kalau kusir dokar tak mengenalinya.
Namun Sanikem masih merekam segala kenangan dengan desanya, meski kini telah berubah total. Apalagi wajah Paryono, laki-laki berkacamata tebal yang ambisinya menjadi lurah melebihi keinginannya untuk berumahtangga.
Begitu juga bapaknya, yang ambisinya menjadi lurah, melebihi cintanya pada istri dan anaknya. Ambisi itulah yang membuatnya menghalalkan segala cara. Bahkan Sanikem yang masih kencur, dijadikan taruhan.
“Kalau aku kalah, ambilah anakku, sebagai istri, Paryono,” kata Bapaknya, kala itu.
“Ya, itu artinya meskipun kamu tidak menjadi lurah, tapi punya Bu Lurah,” ledek Paryono.
Mendengar rencana Bapaknya itu, Sanikem merinding. Lebih merinding lagi, nasibnya ditentukan dalam suasana pesta minuman keras, di tengah dentuman musik dangdut koplo. Dan yang lebih menakutkan, rencana itu bukan basa-basi. Setelah dinyatakan menang di Pilkades, Paryono menagih janji.
“Sastrotomo, mana calon Bu Lurah, saya?”
Sanikem memberontak. Jelang Subuh, Sanikem nekat menerobos kabut dan hutan, minggat ke kota.
***
Dokar berhenti di depan rumah gedhong magrong-magrong bercat kuning. Pohon petai, rambutan, dan nangka tumbuh di pekarangan. Sanikem hanya ingat, pohon petai dan rambutan itulah, pohon yang pernah ditanam Bapaknya. Tetapi rumah itu rumah siapa?
“Apakah ini benar rumahnya, Pak Sastro?” tanya Sanikem, sembari memberikan uang pada kusir dokar.
“Sastrotomo, maksud, Neng?” Sanikem membenarkan. “Lo, dia kan sudah meninggal enam tahun yang lalu. Ini rumah mantan lurah sini, Pak Paryono,” lanjut kusir dokar itu.
Sanikem ragu-ragu melangkah ke rumah gedhong magrong-magrong itu. Dalam hatinya bertanya, apakah itu rumahnya yang dulu? Pintu dari kayu jati diketuknya. Seorang laki-laki berkacamata tebal muncul dari balik pintu. Kumisnya yang tebal, bertabur warna putih. Dahinya tiba-tiba berkerut. Ada sesuatu yang diingatnya. Berselang lima belas tahun, tak membuatnya lupa. Karena gadis itu masih melekat dalam hatinya.
“Kamu pasti Sanikem?” tanyanya tiba-tiba.
“Apakah ini benar rumahnya, Pak Sastro?” tanya Sanikem, tanpa menghiraukan pertanyaan, laki-laki setengah tua.
“Sudah aku duga, kamu Sanikem. Saya, Paryono. Silahkan masuk,” kata Paryono.
“Tidak. Saya ingin bertemu Ibu,” sahut Sanikem sambil mengangkati barangnya kemudian pergi begitu saja.
Paryono, tersenyum kecut. Ia masih terpikat betul dengan kecantikan Sanikem.
“Hai, Ibumu ada di belakang sana!” seru Paryono.
Sanikem segera menuju belakang rumah Paryono. Sebuah tempat mirip kandang sapi. Dari celah gedheg, ia mendengar dengus napas tersengal-sengal. Segera ia membuka pintu. Seorang perempuan tua, tengah berbaring di tikar butut, di atas amben reot.
“Ibu, ini aku. Sanikem, anakmu!”
Mendengar kata Sanikem seketika Ibunya bergairah. Tubuhnya yang menua segera bangkit memeluk anak satu satunya. Isak tangisnya, njujeh ati. Di dalam isak tangisnya itulah Ibunya menumpahkan segalanya.
“Nafsunya menjadi lurah, telah merubah semuanya,” kata Ibunya memulai kisah penderitaannya.
Setelah kalah taruhan saat menjadi lurah, hutang Bapaknya menumpuk. Sawah, dan rumah terpaksa dijual untuk menutup hutang taruhan.
“Yang belum terbayar, hanya balasan cintamu, Nduk,” kata Ibunya. “Untuk menebus cintamu itu, Paryono meminta rumah kita. Namun karena kamu tak juga pulang, Ibu dan Bapak diusir,” lanjut Ibunya.
Karena diusir, terpaksa Ibu dan Bapaknya menempati bekas kandang sapi yang berada tak jauh dari rumah Paryono. “Bapakmu, mati ngenes. Karena dimasa tuanya ia harus menderita seperti ini.”
Sementara Sanikem sendiri tak kuasa berbicara apa-apa. Kerudung hitam yang dikenakannya telah menjadi saksi perjalanannya selama menggelandang di Surabaya, Pontianak, Batam, dan Medan. Lima belas tahun, telah menjadi catatan panjang yang tak akan habis-habisnya untuk diceritakan. “Astafirullah. Jangan kau katakan itu pada Ibu,” bisik hatinya.
“Ehem!” tiba-tiba Paryono, nyelonong masuk. Laki-laki ini masih memendam bara cinta di hatinya. Meski sudah udzur ternyata cintanya pada Sanikem masih segar.
“Nak Paryono, dia baru pulang dari jauh, mungkin masih lelah, “ kata Ibu.
“Nanti mampir ke rumah, Kem,” kata Paryono, kemudian pergi begitu saja.
“Istrinya sudah meninggal setahun lalu. Kayaknya ia masih berharap padamu,” bisik Ibu.
Sampai malam, Sanikem bergeming. Ia duduk di kursi reot. Paryono hanya berdehem-dehem di luar gubuk. Ibunya mendorong Sanikem agar mau menemui Paryono. Namun, Sanikem telah menjadi batu.
“Nanti kita diusir!” bisik, Ibunya.
“Sebernarnya ia sudah membunuh kita!” sahut Sanikem.
Di luar terdengar deheman. Namun tak membuat hati Sanikem gentar. “Kalau kamu mau usir saya dan Ibu, usir saja!” serunya.
Paryono terdiam. Suara burung hantu membelah malam. Napas Paryono tersengal-sengal. “Kalau tidak mau, ya pergi sana!” kata Paryono. Suara dehemnya kini berganti batuk rejan.
***
Hidup yang keras, membuat Sanikem memilih kembali ke Surabaya bersama Ibunya. “Apa kamu sudah punya rumah, punya suami, atau punya anak, Nduk?” Tanya Ibu.
“Apakah perempuan kalau tidak punya suami, tidak disebut perempuan,” kata Sanikem. Ibunya Sanikem tidak tahu apa yang dikatakan anaknya itu.
“Ini tempat apa, Nduk?” tanya Ibunya.
Sanikem tidak menjawab. Kerudung hitam, ia lepas. Rambutnya berwarna-warni. Kaca mata hitam ia kenakan. Ibunya linglung dengan perubahan penampilan anaknya.
“Mari Non, saya bawakan?” kata pemuda tinggi besar yang menghampiri Sanikem, yang baru turun dari taxi.
“Apa dia suamimu?” bisik Ibunya.
“Dedy, ini Mamaku, kenalkan?” kata Sanikem, yang dipanggil Nona Ike.
“Saya Dedy, anak buah Nona Ike.”
Sejenak Ibunya, mengerutkan kening. Bahkan sesampai di ambang pintu rumah yang gedhong magrong-magrong seperti kerajaan itu, air mukanya bertambah pucat pasi, karena puluhan pemuda, menyambut kedangatan Non Ike. Mereka semua memberi tabik.
“Sssttt…mereka semua bojomu, Nduk?”
“Mereka pengagum saya,” jawab Non Ike, sekenanya.
Jawaban anaknya itu membuatnya pusing. Lebih pusing lagi, setiap malam, ada saja tamu yang datang ke rumah anaknya itu. Mereka adalah perempuan-perempuan seusia anaknya.
Tapi yang tak kalah memusingkan setiap malam di rumah anaknya ini berdentum suara musik. Di lantai dansa perempuan-perempuan seusia anaknya berjoget bersama laki-laki kekar. Musik itu baru berhenti tengah malam. Kemudian rumah kembali sepi, Sementara laki-laki dan perempuan-perempuan itu menghilang seperti ditelan malam.
“Ah peduli amat dengan semuanya ini,” kata Ibu, yang kini sering dipanggil Mama.
“Ya, aku bisa!” Serunya.
Ibunya, memoles wajah dengan make up, sembari bergoyang ke kiri dan ke kanan. “Yah, aku bisa!”
“Selamat datang di kota buaya!” seru Nona Ike.
Musik berdentum keras, ditingkai suara manja. Malam semakin malam. Ibu dan Non Ike merasakan ada kunang-kunang di keningnya.
“Apa ini yang namanya mabuk, Nduk? Eh..Non…?”
“Iya, Bu…eh, maksudku, Ma…..”
Kerudung hitam itu membuka mesterinya.
Sidoarjo, Akhir Tahun 2007
Diposkan oleh
teaterapakah
di
09:48
0
komentar
Label: cerpen
Loading...
